Great Mentality Beats Fluidity

BY sball

26/05/2015

LA Streetball | Cover Story Great Mentality Beats Fluidity
LA-Streetball.com - Suatu waktu redaksi LA Streetball berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol santai dengan salah satu legenda streetball Nasional, Rico AKA Spinboy. Ketika tiba di pertanyaan siapakah pemain bola basket yang menjadi inspirasinya, Rico menjawab satu nama, Kobe Bryant. Apa yang melandasi Rico sehingga mengagumi The Black Mamba? Mentalitas dan konsistensi sang idola.

Kobe menjalani pasang surut karir selama menjadi pebasket profesional. Pernah ia dicemooh karena dianggap menjiplak gaya bermain dan teknik legenda Chicago Bulls, Michael Jordan. Periode positifnya, di awal tahun 2000an, ia merasakan nikmatnya bulan madu bersama LA Lakers, dengan meraih three peat gelar championship alias tiga kali juara NBA selama tiga tahun berturut-turut, yakni pada tahun 2000, 2001, dan 2002. Namun, pencapaian hebat Kobe tersebut tetap saja dinilai kurang oleh sebagian orang. Mereka masih bisa menemukan celah untuk mempertontonkan borok Kobe ke khalayak.

Saat itu, Kobe dianggap tidak akan mampu meraih cincin juara tanpa kehadiran Shaquille O'Neal di sisinya sebagai rekan setim. Ia sangat bergantung pada Big Shaq. Kobe tidak akan sukses tanpa O'Neal, yang memang merupakan salah satu center terbaik NBA sepanjang masa. Begitu kritikan pedas yang diterima Kobe. Lalu, apakah kritikan tersebut lantas membuat Kobe berkecil hati? Tidak sama sekali.

Kobe terlahir sebagai pemenang. Ia memiliki mental juara yang luar biasa. Ia bisa menang dengan atau tanpa seorang Shaquille O'Neal sekalipun. Memang, dibutuhkan waktu adaptasi bagi Kobe yang ditinggalkan oleh O'Neal (hijrah ke Miami Heat) pada tahun 2004, untuk membawa Lakers menjadi juara NBA kembali. Tetapi, Kobe tetap mampu menunjukkan konsistensi yang luar biasa.

Ia selalu terpilih masuk ke dalam skuad NBA All Star dari tahun 2000 hingga tahun 2014, yang bisa dijadikan sebagai tolak ukur kehebatan Kobe. Pada tahun 2005 dan 2006, ia berturut-turut menjadi pebasket yang paling banyak mencetak poin. Hingga tiba waktunya, Kobe kembali membawa Lakers menjadi juara NBA dua musim beruntun pada tahun 2009 dan 2010.

Selain mentalitas juara, konsistensi menjadi kunci sukses Kobe sehingga membuatnya menjadi legenda hidup basket hingga kini. Kedua hal tersebut juga Kobe imbangi dengan kebulatan tekad dan kerja keras. Coba tengok apa yang pernah dikatakan oleh Phil Jackson, seorang pelatih yang pernah mengasuh dua atlet basket terbaik sepanjang masa, Michael Jordan dan Kobe Bryant.

"Meskipun publik menilai Kobe meniru banyak hal dari Michael Jordan, namun sejujurnya ia berada jauh di atas Michael dalam hal kerja keras dan attitude berlatih. Saya tahu, Michael akan protes kepada saya mengenai ini, namun saya hanya mengatakan yang sejujurnya," kata Jackson.

Rico Spinboy pun sepakat dengan apa yang diutarakan Jackson. "Setahu saya, Kobe selalu datang tiga jam lebih awal dari pemain-pemain lainnya untuk berlatih, sebelum LA Lakers bertanding. That's why he becomes the best player in the world!"

Pelajaran yang bisa dipetik dari sini adalah bahwa diperlukan mentalitas kuat yang diimbangi oleh konsistensi dan kerja keras untuk meraih sukses. Basket maupun streetball merupakan olahraga keras yang tidak diperuntukkan bagi mereka yang berjiwa lemah dan cengeng. Patut digarisbawahi, keras di sini tidak hanya melulu secara fisik. Memang, olahraga ini rentan akan benturan fisik, namun yang lebih perlu diantisipasi adalah serangan terhadap mental.

Ketika kalah, putus asa. Saat menang, menjadi jemawa. Kedua hal tersebut adalah racun yang harus dihindari oleh semua streetballer. Dengan demikian, hanya mereka yang bermental juaralah yang mampu menetralisir racun seganas apapun itu.

(RAI)

 
Baca juga: Winner's Mentality

SHARE
2468
READ
WEBSITE INI HANYA DIPERUNTUKKAN BAGI ANDA YANG SUDAH BERUSIA 18 TAHUN KE ATAS

Loading...