STRONG WILLPOWER

BY sball

21/04/2014


Di usianya yang masih muda, 25 tahun, Kevin Durant sudah menjadi pemain yang disegani lawan dan kawan di kompetisi seberat NBA. KD menjadi pemain tertajam dalam peraihan angka pada musim ini, di mana ia rata-rata mencetak 31.8 points per pertandingannya. Catatan impresif ini bahkan mengalahkan nama-nama besar seperti Carmelo Anthony (28 points) atau LeBron James (26.7 points). Itulah yang menggiring KD untuk menjadi kandidat kuat NBA MVP bersama LeBron James dan juga Paul George.

Kemampuan individunya bisa mengangkat performa Oklahoma City Thunder, bahkan ketika pasangan emasnya, Russel Westbrook, mengalami cedera untuk beberapa waktu. Tak heran jika Kevin bisa menjadi pemain pertama yang bisa menjuarai NBA Scoring Champion 3 kali berturut-turut (2010-2012), setelah sebelumnya hanya Michael Jordan yang melakukan itu (1995-1998)

Khusus berbicara tentang postur tubuh, KD dianugerahi keistimewaan tersendiri. For a 6-9 player, Kevin has a grotesque large wingspan of approximately 7.5 feet. Ia memanfaatkan betul kelebihannya tersebut untuk menghadapi lawan. Tangannya yang panjang juga memudahkan dirinya untuk melakukan shooting dari jarak manapun.

Selain itu, dengan kecepatan yang dimiliki, membuatnya mampu melewati para bigman dan menaklukkan ring dengan dunk-dunk nya. Kevin is superb at attacking the rim. As with most scoring champions three times (2010, 2011, 2012) which means he was just became the first player to lead the league in scoring three straight times since Michael Jordan did it from 1995-98. It’s really great how he makes basketball looks so easy. Ditambah kemampuannya dalam bertahan dan melakukan passing, lengkap sudah atribut KD sebagai pebaseket yang unik sekaligus sempurna, saat ini.

Well, ada sebuah kisah yang menunjukkan sisi lain dari seorang Kevin Durant di lapangan. Pada musim 2009-2010 Oklahoma City Thunder dikalahkan oleh LA Lakers setelah melalui pertarungan sengit pada laga play off wilayah barat, dan Kevin Durant meyemangati rekan setimnya dengan kalimat yang mengejutkan. Di locker room, ia berseru kepada rekan-rekan setimnya agar musim depan mereka harus mulai berpikir dan bekerja layaknya sebuah tim juara. Ia juga mengatakan penderitaan atas kekalahan akan selalu menjadi bagian dari kejayaan.

Suatu kebijaksanaan yang luar biasa dari Kevin di usianya yang masih muda.

Kesemuanya itu ia dapatkan dari hasil kerja keras dan tekad yang kuat. Flashback ke belakang, KD muda ternyata menjalani masa hidup yang sulit, di mana ia tumbuh tanpa kasih sayang ayah yang pergi meninggalkannya saat Kevin berusia 1 tahun. Sejak itu ia diasuh hanya oleh ibunya, Wanda Pratt dan neneknya, Barbara Davis.

Selain itu, di usianya yang masih 8 tahun ketika itu, ia sudah harus kehilangan Charles “Chuck” Craig, pelatih yang pertama kali mengenalkan basket kepadanya, pelatih yang meyakinkan Kevin kecil bahwa ia bisa menjadi pebasket pro yang handal di masa depan, pelatih yang selalu ada untuk Kevin Durant. Chuck meninggal di usia 35 tahun akibat terbunuh saat berusaha melerai sebuah perkelahian di Maryland. Since then, Kevin always use number 35 on his jersey to remind him of Chuck.

Masa mudanya pun tak dijalani sebagaimana mestinya selayaknya pemuda lain. Demi meraih mimpinya untuk menjadi pemain basket profesional, masa 7th grade Kevin ditempa secara keras di gymoleh pelatihnya, Taras “Stink” Brown. Kevin pun tak tahan dengan itu, dan bahkan sempat ingin menanggalkan mimpinya untuk menjadi pebasket pro, karena merasa kerja kerasnya itu sia-sia belaka.

Ada momen ketika Kevin mengikuti sebuah kompetisi yang melibatkan banyak sekolah besar dan pelatih hebat untuk melakukan talent scouting. Ia bermain sangat bagus pada saat itu, namun tetap saja luput dari perhatian mereka para talent scouts. Sang ibu, Wanda, melihat ada kesedihan mendalam di mata Kevin. Semenjak saat itulah keinginan untuk berhenti bermain basket muncul dalam diri Kevin Durant.   

“Saya berbicara kepada godfather (sebutan akrab Taras Brown) yang terus melatih saya tiap hari, ‘saya rasa saya tidak akan bermain basket lagi.’ Saya sudah memikirkan ini secara matang, bahwa saya tidak bisa seperti ini terus,” kata Durant. “Saya ingin seperti anak-anak lainnya yang bisa bermain dan bersenang-senang tiap hari. Sedangkan saya tidak. Saya selalu pergi ke gym, dan latihan. Saya berlari di bukit, melakukan lari 100 putaran tiap harinya. Saya hampir tidak sekalipun menyentuh bola basket, melainkan hanya melakukan push up dan sit up.

At that time, Kevin thought that was unfair that he had to go through that boot camp when the other guys not working as hard as him and he still didn’t get what he expected.  

Brown saat itu kecewa berat dengan keputusan Kevin. “Jika kamu tidak bermain basket, maka kamu akan menjadi penari balet. Jangan temui saya, jangan kembali, kecuali kamu kembali ingin menjadi pemain basket!”

Kevin merenungkan perkataan Brown begitu lama, dan dalam hatinya jujur bahwa kecintaannya terhadap basket tak mungkin luntur. Tekadnya untuk meraih mimpi di dunia basket masih begitu besar. Sebesar cinta sang ibu yang selalu mendukung dan memotivasi Kevin. “Mereka (para talent scouts) boleh saja tidak melirik kamu sekarang, tetapi kelak mereka berharap sebaliknya. Kamu jangan khawatir, teruslah bekerja keras. Terus lakukan yang terbaik, maka mereka pasti akan menyesali ini nantinya.”

Akhirnya, Kevin menarik kembali keputusannya hengkang dari dunia basket. Kevin pun kembali berlatih bersama Brown. Beberapa tahun setelahnya, semua orang bisa melihat langsung betapa hebatnya Kevin Durant saat ini.

What we can learn from Kevin Durant is by his great determination and love of basketball then anything are possible. If you have a dream, don’t just sit there, catch them all, and make it real. Gather your STRONG WILLPOWER to believe that you will be succeed!

SHARE
745
READ
WEBSITE INI HANYA DIPERUNTUKKAN BAGI ANDA YANG SUDAH BERUSIA 18 TAHUN KE ATAS

Loading...