The Untold Story of Rico Spinboy

BY sball

18/05/2015

LA Streetball | Rico aka Spinboy
LA-Streetball.com - Menjadi seorang legenda streetball Indonesia, Rico Lubis AKA Spinboy mengaku pertama kali bermain basket saat kelas 4 SD. Saat itu, ia sudah gemar mendribbling bola di depan rumah hingga berjam-jam lamanya. Hingga berlanjut ke masa remaja, Rico masuk ke SMA 3, sekolah yang memang terkenal dengan bibit-bibit pemain bola basket nasional. Bersama Bazwan AKA Brother J, Rico semakin serius bermain basket.

Rico dan Bazwan sempat terjun ke dunia freestyle terlebih dahulu sebelum masuk ke ranah streetball. Pada tahun 2001, dua sahabat karib tersebut berhasil menjadi juara 2 se-Indonesia kompetisi Nike Freestyle. Hingga sampai tahun 2004, kompetisi LA Streetball kemudian diadakan untuk pertama kalinya. Rico pun memutuskan untuk turut serta. Pada titik itu pula dia serius bermain streetball. Khusus streetball, ia memiliki banyak pengalaman mengesankan, yakni terpilih menjadi All Star Nasional sebanyak 3 kali berturut-turut (2005, 2006, dan 2007) dan menjadi juara Nasional sebanyak 4 kali (2006, 2008, 2010, dan 2012).

"Saya cukup bangga dengan prestasi saya. Namun, saya lebih senang disebut sebagai former 4 times National champion, ketimbang eks All Star tiga kali. Mengapa? Karena sejauh ini cuma ada tiga orang yang mampu menjadi juara Nasional 4 kali, yaitu Bayu AKA Lunatic, Bicek AKA Demolition, dan saya sendiri," tukas Rico bangga kepada tim redaksi LA-Streetball.com. Dengan kata lain, Rico mampu berprestasi secara individu sekaligus mampu mengangkat timnya untuk menjadi juara.

Selain itu, ada satu nilai positif dari seorang Rico Spinboy yang bisa dipetik; "Di kamus saya, tidak ada itu yang namanya juara 2." Menarik, sebab beberapa kali dia menjadi juara 2 dalam open run, namun pada saat itu pula ia membagikan medali peraknya kepada para fans atau penonton. Bersungguh-sungguh, Rico mengatakan bahwa dia tidak ingin ada medali perak di kamarnya. Bagi penggiat street workout ini, kata-kata "Menang, kalah itu biasa dalam olahraga" adalah omong kosong belaka. Menurutnya, juara kedua tetaplah merupakan kekalahan yang tidak bisa dibanggakan.

Terkesan arogan? Tidak juga. Dalam kesehariannya, dan dalam kegiatan apapun, Rico memang selalu menjunjung tinggi confidence alias kepercayaan diri. Baginya, mental kuat itu penting untuk bisa survive dalam menghadapi kondisi sesulit apapun. Hasilnya, hampir semua prestasi di kompetisi LA streetball pernah ia raih. Singkatnya, tidak ada yang mampu menghalangi kiprah brilian Rico saat itu. Namun, meski demikian perjalanan karir Rico bukan berarti selalu mulus. Ia sama seperti orang lain pernah juga mengalami keterpurukan.

Tahun 2008 dan 2009 bisa dikatakan sebagai masa kelam bagi seorang Rico Spinboy. Seminggu sebelum open run LA Streetball 2008 berlangsung, Rico mengalami kecelakaan motor. Meskipun begitu, dia tetap memaksakan bermain dengan kondisi tangan kanan yang cedera dan membengkak. Alhasil, timnya gagal melaju ke babak final dan ia tidak terpilih masuk ke dalam City Team Selection Jakarta. Rico yang terbiasa berada di level teratas pun kecewa mengalami momen buruk ini. "Sial! begini ya rasanya jadi orang biasa," kata Rico.

Awan hitam terus berlanjut menggelayuti Rico di tahun berikutnya. Rico yang berniat untuk revenge, malah kalah di tiga pertandingan sekaligus. Pada titik ini, Rico melihat para juri dan penonton menatapnya dengan bahasa tubuh seolah-olah ingin berkata, bahwa masa keemasannya sudah berakhir. Atas performa buruknya di tahun 2008-2009 Rico pun pernah mendengar salah satu rekannya berujar, "Rico Spinboy sudah habis, sih."

Kecewa? Pasti. Menyerah? Jelas, itu bukan pilihan baginya. Rico menjadikan Kobe Bryant sebagai panutan untuk ini. Dia begitu mengidolakan Kobe yang memiliki masa naik-turun dalam karirnya. Kobe dianggap menjiplak habis-habisan gaya dan teknik Michael Jordan. Dia juga dinilai tidak akan mampu membawa Lakers juara NBA, tanpa kehadiran Shaquille O'Neal. Namun, kenyataannya Kobe tidak memedulikan hal tersebut dan tetap fokus serta kerja keras. Pada akhirnya, di tahun 2010 Kobe berhasil membawa Lakers juara liga.

Di tahun yang sama pula, Rico bangkit menjuarai kompetisi LA Streetball Nasional. Terasa lebih istimewa, sebab Rico menjadi juara bersama komunitas streetballnya, yakni Offsiders. Rico berhasil membungkam semua kritikan dan keraguan yang ditujukan kepadanya.

Kini, sudah kurang lebih 10 tahun Rico Spinboy menggeluti streetball. Jika ada satu impian yang belum terlaksana baginya ialah bertanding di luar Indonesia. "Minimal di level Asia, deh. Saya sudah pernah berduel dengan The Professor dan Hot Sauce, yang kesemuanya adalah master streetball dunia. Sekarang, saya lebih ingin memiliki prestige. Saya ingin sekali mendapatkan piala bertaraf Internasional," ujar Rico.

Selain itu, Rico juga ingin memberikan pesan-pesan bagi streetballer muda yang ingin berkarir di dunia streetball. "Untuk menggeluti suatu bidang, apapun itu, kamu harus mencintai terlebih dahulu bidang tersebut. Karena ketika kamu sudah cinta, maka kamu akan enjoy menjalaninya. Cintai bidang yang ingin dijalani, selalu kerja keras, dan jangan pernah ada kata puas dalam meraih prestasi."

LA Streetball | Rico aka Spinboy

(RAI)


Baca juga: Ball Spinning Tips by Rico Spinboy

SHARE
2329
READ
WEBSITE INI HANYA DIPERUNTUKKAN BAGI ANDA YANG SUDAH BERUSIA 18 TAHUN KE ATAS

Loading...